JARAK PERSAHABATAN
Karya : Nurul Qomariyah
Saat fajar mulai beranjak dari peraduannya saat itulah aku membuka mata melihat dunia yang begitu indah yang tidak tahu bagaimana kehidupanku di masa mendatang. Aku duduk di teras rumah melihat pemandangan yang indah bak kepingan surga yang terjatuh di bumi, Begitu indah, begitu damai, begitu tentram, suasana yang tercipta. matahari menjalani rotasinya dengan membawa warna yang berbeda pada setiap penghuni bumi. Ia melekat pada jejak-jejak perjalanan, ia lentera alam yang menyimpan seluruh adegan masa lalu dan akan menjadi saksi semua episode masa depan.
Waktu menunjukan pukul 6, aku harus bersiap-siap kesekolah “ok, aku harus menjadi yang terbaik dan aku harus menjadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin” ucapku. Seperti biasa disekolah aku bertemu dengan teman-teman yang sifat dan karakternya berbeda, aku mempunyai seorang sahabat yang begitu baik bernama Indah, “hmm, nama yang indah seperti perilakunya”. Meskipun terpisahkan oleh jarak, aku dan Indah selalu berbagi cerita dan pengalaman lewat telpon dan sms, Ya! hanya itu yang dapat kami lakukan untuk menjaga persahabatan ini. Aku dan Indah bersahabat sudah 3 tahun lamanya, aku tak ingin pertemanan yang melekat ini menjadi rengang karena kurangnya komunikasi.
Saat ini aku duduk di kelas 2 SMA, dimana masa-masa SMA adalah masa yang indah, masa yang penuh canda, tawa dan cerita. Keheningan siang itu berganti dengan sorak sorai para murid karena jam pelajaran telah habis. Ini hari jum’at, yang berarti kebebasan, hanya belajar setengah hari, dari jam tujuh sampai jam setengah dua belas siang. Dan itu sungguh mengharukan bagi para murid yang empat hari sebelumnya mati-matian belajar keras disekolah hampir sepanjang hari.
Malam tiba, bulan mulai menampakkan batang hidungnya. Perasaan senang di hatiku berubah duka saat mendapat kabar bahwa sahabatku Indah baru saja mengalami kecelakaan, hari-hari yang sudah ku kemas dalam kebahagiaan ternyata terselip goresan duka karena Indah. Malam ini, aku sulit menjinakkan sepasang mataku. Sejak pukul 22.00, aku telah berusaha memejamkan mata dan mengusir semua hal yang melintas dalam pikiranku. Sebuah kegelisahan yang membuatku bertanya-tanya, mengapa kegelisahan ini begitu mencekam ?
Tidak lama kemudian, aku segera menelpon kakak Indah dan bertanya-tanya tentang keadaannya namun yang aku terima jawabannya adalah “Indah Kritis”, aku segera menutup telpon dan tak ingin melanjutkan pembicaraan tadi.
2 hari kemudian, aku masih belum bisa melupakan Indah yang jauh disana dan terbaring di kasur rumah sakit dengan selang – selang yang menancap di tubuhnya, cuaca hari ini seperti mencerminkan perasaanku yang mendung, bumi yang beratap awan hitam menambah keheningan di dalam hidupku saat ini. Tiba-tiba “kriiiiing” suara handphone ku berbunyi, aku membaca nama kontaknya adalah Indah, dan aku berharap itu benar – benar Indah sahabatku.
“Hallo, Indah ?” ucapku
“Ya, Lisa ini Indah. Maaf 3 hari kemarin aku tak mengabarkanmu.” Jawab Indah
“Gimana Kabarmu ? Apa kamu sudah sehat ? maaf aku tidak bisa menjengukmu ? aku cemas dengan keadaanmu disana kawan”. Jawabku
“ Aku baik, sekarang aku harus menjalani perawatan secara rutin karena ada luka yang cukup parah, kamu do’akan aku supaya cepat sembuh ya”. Jawab Indah dengan suara yang lembut.
Tiba- tiba hp ku mati, karena aku lupa mengisi daya hp. “sial” ucapku dalam hati.
Kecemasan itu perlahan-lahan menghilang, aku seperti matahari yang bersinar terang pada siang itu meskipun awan tetap hitam. Matahari sudah tenggelam, langit di atas tampak pekat. Lebih menua dari hari biasanya, sekawanan mendung terlihat mengitari halaman cakrawala, memberikan isyarat bahwa malam ini langit akan menangis. Dari balik jendela aku melihat rintik hujan saat itulah waktu yang tepat untukku mengisi semua lembaran cerita hidup, menggoreskan pena dalam buku harian. Tiba- tiba “ krreeeek” mamah memasuki kamarku dan seperti biasa mamah bertanya tentang kegiatanku di pagi hari tadi. Namun, kali ini berbeda, ada 1 pertanyaan yang membuatku galau berat yaitu aku harus pindah rumah dari kotaku Jakarta. “hmm, jika aku pindah nanti maka aku semakin jauh dengan Indah dan apakah aku masih bisa bertemu dengan Indah sahabat terbaikku” pikirku. Hari semakin malam, aku tertidur dengan lelap melupakan segala aktivitas yang melelahkan di pagi hari tadi dan besok harus bangun lebih awal.
Hari sudah pagi, hari ini adalah hari senin yang artinya kita harus melaksanakan upacara bendera. Udara segar di pagi hari dengan matahari yang tersenyum seakan membangitkan semangatku karena aku baru saja mendapat kabar bahwa siang ini Indah akan segera ke Jakarta untuk beberapa hari kedepan. Mungkin ini adalah pertemuan terakhir aku dengan Indah karena akupun harus pergi meninggalkan kota Jakarta.
Aku menceritakan semua pengalamanku kepada Indah, bagiku sahabat adalah orang teristimewa setelah keluarga.
“Indah, aku harus meninggalkan Jakarta dan aku akan tinggal di Cirebon karena pekerjaan ayahku, aku minta maaf jika selama ini aku belum bisa menjadi teman yang terbaik bagimu”. Ucapku
“Ya, Lisa aku juga minta maaf jika selama ini aku banyak salah padamu, tapi aku tak ingin persahabatan kita berakhir sampai disini. Aku masih ingin mempunyai sahabat terbaik seperti mu”. Ucap Indah
“Ya, Indah aku akan terus mengingatmu sampai waktu yang memisahkan persahabatan kita.” Jawabku.
Air mata yang berlinang pada pipi kami, seakan menjadi air mata terakhir kami. Perpisahan ini terasa begitu berat untuk kami seakan-akan kami tak dapat bertemu kembali. Kenangan berarak yang tak mau mati itu, malah membuatnya takut. Membuatnya bimbang. Mengapa, Mengapa kami harus berpisah ?
Sore ini aku bersiap – siap untuk pergi ke Cirebon, rona ceria berubah duka, ada lara yang tercipta di diriku. Entah mengapa rasanya aku berat meninggalkan ini semua, tapi malam ini harus berangkat ke Cirebon. Setelah beberapa jam dalam perjalanan akhirnya aku dan keluarga sampai juga di Cirebon.
Aku seperti melihat bumi yang berbeda, aku menyaksikan pagi yang muram, keheningan cahaya, dan pucat. Aku menemukan angin yang resah, tanpa siulan dan tak berjejak. Dan, aku mendengar suara air dari kamar mandi yang mencekam, jauh dari irama kesyahduan dan melodi ketentraman. “hmm, aku tak tahu bagaimana aku nanti tapi dimanapun aku berada, aku harus bisa menyesuaikan diri”. Ucapku. Semoga Indah disana menemukan sahabat baru yang lebih baik dari aku dan tanpa melupakanku.